Debu-debu masih berterbangan di sekitar bukit Uhud. Luka-luka masih basah, pukulan balik yang dilakukan kaum musyrikin Quraish menimbulkan korban jiwa yang tidak sedikit. Tapi Rasulullah SAW segera memerintahkan sebagian sahabatnya untuk mengikuti musuh yang baru saja pergi. Sang Nabi segera mengurus jenazah para syuhada Uhud sebelum akhirnya pergi menyusul para sahabatnya. Mendengar pengejaran yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. Orang-orang Musyrikin Quraish mempercepat langkahnya lari menuju kota Makkah.

Dalam logika peperangan, pasukan pemenang akan mengejar pasukan yang kalah sehingga mereka lari dengan rasa ketakutan. Lalu siapa pemenang pertempuran Uhud yang menyisakan banyak pelajaran itu? Sulit untuk dijawab tentunya. Tapi apa yang dilakukan kaum muslimin saat itu menggambarkan mental pasukan pemenang. Mereka tidak pergi dari medan Uhud, bahkan mengejar balik kaum Musyrikin hingga mereka berlari ketakutan. Peperangan bukan tentang siapa yang membunuh lebih banyak, tapi tentang siapa yang paling lama bertahan di medan laga.

Ramadhan bulan kemenangan, begitu yang dikatakan para ulama kepada kita. Tapi siapakah yang pantas menjadi pemenang pada bulan ini? Orang-orang yang beriman tentunya.

Jika kita mengadopsi logika kemenangan dalam peperangan diatas, para pemenang adalah mereka yang paling akhir bertahan dimedan laga. Mereka yang tidak lari di tengah tengah pertarungan. Para pemenang adalah mereka yang menuntaskan pertandingan hingga di garis finishnya. Logika kemenangan ini konsisten berlaku dalam setiap pertandingan dan kompetisi untuk menentukan pemenang. Mereka yang gugur atau menyerah sebelum pertandingan berakhir tidak pernah mendapatkan gelar juara. Peluang juara hanya dimungkinkan bagi mereka yang bertahan hingga akhir pertandingan.

Ramadhan bukan bulan yang panjang, tapi untuk dapat bertahan dalam menjaga komitmen ibadah kita hingga akhir rasanya juga bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Maka segala persiapan jasmaniah maupun ruhaniah menjadi sangat penting. Agar semangat keimanan kita tidak luntur bersama waktu. Agar tubuh kita tidak letih mengejar amal. Semoga tulisan ini pun belum terlambat untuk mengingatkan kita dalam menyusun langkah menyongsong bulan kemenangan yang semakin dekat.

Ramadhan bulan kemenangan, kemenangan yang Allah janjikan kepada siapapun yang bersungguh-sungguh mengejarnya. Kemenangan atas hawa nafsu yang melenakan. Kemenangan yang berbuah ampunan atas dosa-dosa. Hadiahnya adalah pahala yang tidak terhitung jumlahnya.

Ya Allah jadikan kami diantara orang-orang yang memperoleh kemenangan di Ramadhan Kali ini. Ya Allah jadikan kami diantara orang-orang yang mendapatkan ampunan serta rahmat darimu. Aamiin.

Wallahu’alam, Bogor 30/4/2019
Yasin

 

April 30, 2019

Langkah Para Pemenang

Debu-debu masih berterbangan di sekitar bukit Uhud. Luka-luka masih basah, pukulan balik yang dilakukan kaum musyrikin Quraish menimbulkan korban jiwa yang tidak sedikit. Tapi Rasulullah SAW […]
March 4, 2019

Pemilu 2019, Ikhtiar Perbaikan

Masih melekat di ingatan kita tahun 2018 yang subur dengan penangkapan para koruptor. Pemberitaan penangkapan muncul silih berganti di layar televisi, koran, bahkan media-media sosial. Ada […]
February 11, 2019

Yang Baru Lebih Seru

Sesuatu yang baru selalu menarik. Handpone baru misalnya, meski tak sebagus yang lama tetap saja menarik untuk di explorasi. Setidaknya mengurangi jenuh karena yang lama fiturnya […]
December 16, 2018

Dimana Allah?

Dimana Allah? Pertanyaan itu seolah tertulis abadi dalam dunia sains dan pengetahuan. Pertanyaan yang mungkin tidak pernah terjawab tapi tidak pernah juga berhenti ditanyakan. Misteri tentang […]