Senyum Keluarga
November 16, 2018
Spektrum Persatuan
December 10, 2018
Show all

Mereka yang Ikhlas

Malam semakin larut, ketika seorang lelaki gagah masih menyendiri di dalam gua. Ia renungi nasib bangsanya. Ia pikirkan jalan keluar yang paling memungkinkan untuk dilakukan. Ia tahu masih banyak orang-orang yang baik berhati bersih, tulus juga menginginkan perbaikan bagi bangsanya. Terus ia merenung hingga rasa kantuk membuatnya tertidur.

 

Beberapa hari ia lewati dalam perenungannya, paling sedikit sekali dalam setahun ia melakukan hal yang sama. Pada akhirnya kita hanya dapat menebak apa-apa saja yang menjadi perenungannya. Namun Allah seolah memberikan jawaban atas segala kegelisahannya dengan mendatangkan Jibril membawa berita kenabian. Berita yang sangat besar itu hanya membuatnya bertambah gelisah hingga istrinya menenangkan.

 

Ia tahu betul betapa kompleksnya permasalahan yang menyelimuti bangsanya, itulah yang membuatnya merenung menyendiri setiap tahunnya. Kini semua permasalahan itu seolah Allah bebankan hanya pada dirinya seorang. Muhammad Rasulullah SAW.

 

Maka mulailah sang Nabi SAW mengurai kerja-kerja besar perbaikan bangsanya. Ia memulainya dengan menanamkan kembali keyakinan akan Tuhan yang Esa, Allah SWT. Tidak ada Tuhan selainnya, tidak ada aturan yang boleh diikuti kecuali yang sejalan dengan-Nya. Dia Maha Adil penilaiannya. Setiap manusia memiliki kedudukan yang sama di hadapan Allah, ketaqwaan lah yang membedakan.

 

Islam hadir dengan kosep yang sangat berbeda tetang hubungan sosial dan bermasyarakat. Yakni menjadikan Allah sebagai landasan beramal, bukan yang lain. Prinsip-prinsip keadilan ditengah maraknya kesewenangan hukum yang menindas kaum lemah, Jelas sekali adalah seruan revolusi. Begitu juga konsep kesetaraan ditengah ditengah masyarakat yang berkelas-kelas.

 

Jika bukan karena ketulusan dan keihlasannya dalam berjuang, mungkin Ia sudah mundur ketika Abu Lahab berteriak di tengah orang orang yang berkumpul ingin mendengarkan berita dari sang Nabi.

 

“Celakalah engkau Muhammad, hanya karena inikah engkau mengumpulkan kami disini?” Teriaknya kencang. Maka terjadilah hiruk pikuk diantara orang-orang yang berkumpul itu. Satu persatu mereka pergi meninggalkan sang Nabi SAW, sendiri.

 

Tapi keikhlasannya yang murni telah menghilangkan ragu untuk kembali menuyeru. Tapi keikhlasannya yang murni memilihkan kesibukan untuk terus bekerja daripada sekedar bersandiwara memoles citra. Tapi keikhlasannya yang murni telah mengokohkan pondasi-pondasi dasar agama ini begitu kuat. Pondasi itu menopang berkembangnya Islam hingga beratus tahun setelah kematian Rasulullah SAW.

 

Jika bukan karena ketulusan dan keikhlasannya dalam beramal, mungkinkah ia memilih tetap berjuang ketika sejumlah pejabat kota Makkah datang menawarkan harta dan kedudukan, bahkan wanita. Tapi Muhammad SAW tetap pada pendiriannya menjalankan misi kenabian. Sang Nabi justru berkata pada pamannya.

 

“wahai paman”, jawab sang Nabi. “Seandainya pun mereka meletakkan matahari ditangan kananku dan bulan di tangan kiriku, aku tidak akan pernah mau meninggalkan jalan ini.”

 

Ah… dimanakah dapat aku temukan pemimpin di negeri ini yang menyaingi beliau dalam keikhlasan amalnya. Ia menghabiskan malam dalam perenungan. Ia habiskan siang dalam amal-amal kebaikan. Dalam iklim politik indonesia yang kita ketahui bersama, tentu sulit menemukan model pemimpin seperti ini.

 

Ah… masih adakah orang orang yang ikhlas mengisi posisi-posisi penting di negeri ini, ketika promosi jabatan kadang dibumbui subjektifitas, tidak jarang juga berbau politis. Ketika calon pimpinan bangsa diusung berdasarkan kekuatan modal yang menggerakkan mesin-mesin politik.

 

Sulit memang menemukan mereka, namun aku masih melihat ada orang-orang selalu bersungguh-sungguh memperbaiki niatnya dalam berkonstribusi pada negeri. Sebagian mereka bahkan telah mewakafkan dirinya untuk bangsanya.

 

Orang-orang yang ikhlas, mereka memang tidak berkerja mengerjar citra. Tapi kerja mereka selalu dilihat oleh orang-orang yang jujur. Mereka mungkin berkerja dalam sepi, seringkali juga jauh dari hiruk pikuk pencitraan kosong media bayaran. Kadang mereka dipandang sebelah mata, tapi itu tidak pernah terlalu mereka pedulikan. Mereka hanya ingin memanfaatkan setiap kesempatan yang dimiliki untuk terus bekerja dan beramal setra memberikan karya yang terbaik.

 

Orang-orang yang ikhlas, mereka tidak pernah takut kehilangan jabatannya apalagi sekedar geretakan politik. Mereka hanya ingin mencoba melaksanakan segala sesuatunya dengan cara-cara yang benar, baik secara aturan maupun moral. Mereka memilih terlihat baik dimata Tuhannya, tidak peduli lagi penilaian manusia. Mereka mungkin salah, tapi mereka selalu jujur pada kesalahan, segera memperbaiki diri. Bukan berlindung pada aturan untuk menutupi kesalahan.

 

Mereka orang-orang yang tulus dalam perjuangannya kini sudah sangat sulit dicari. Lebih sulit lagi ketika sebagian mereka menyembunyikan amalnya untuk menjaga kemurnian niat. Maka jika suatu saat engkau temukan satu diantara mereka, dukunglah perjuangannya. Bantulah mereka mendapatkan kesempatan-kesempatan yang lebih besar dalam memperbaiki bangsa ini. Semoga Allah senantiasa menghadirkan orang orang yang tulus berjuang bagi bangsa kita.

 

Mereka mungkin tidak memburu jabatan, tapi kita membutuhkan mereka mengisi pos-pos strategis yang menentuka arah bangsa ini. Agar kebaikan yang mereka miliki dapat mengkristal menjadi kebaikan bangsa ini. Agar arah perjalanan bangsa tidak menjadi rebutan orang-orang serakah yang tak peduli pada nasib kita. Ya Allah, jangan engkau jadikan pemimpin diantara kami orang yang tidak menyayangi kami.

 

Jika enggau menemukan orang orang yang tulus, jangan biarkan ia dalam kesulitan. Jangan biarkan mereka dalam kesempitan gerak, karena itu hanya akan menghambatnya dalam menambah amal. Berikan saja pada mereka ruang-ruang kerja yang luas, kelak kita akan saksikan karya-karya besar lahir dari sana. Mari bantu mereka, semoga setiap bantuan yang kita berikan Allah catat sebagai bagian dari karya besar yang akan mereka hasilkan.

wallahualam

 

Dalam suasana Maulid Nabi Muhammad SAW

Bogor 22, Nov ‘18

-Yasin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.