Mengais Berkahnya Pagi
October 24, 2018
Mereka yang Ikhlas
November 22, 2018
Show all

Senyum Keluarga

Ia tersenyum, bahagia sekali tampaknya. Setelah cukup lama kami tak jumpa, hari itu atas izin Allah kami bertemu. Banyak yang berubah pastinya, tapi satu yang seharusnya tidak berubah sampai kapan pun, kami adalah keluarga. Betapapun akhirnya perjumpaan dan perpisahan telah menjadi ketetapan-Nya yang pasti terjadi, kami tetap keluarga.

 

Ia Tersenyum, matanya menunjukkan kasih sayang. Dahulu sering Dia bercerita kepada kami tentang kisah kisah keluarga para nabi. Mulai dari cerita tentang Nabi Adam as, Istri, dan anak-anaknya. Cerita nabi Nuh yang tidak dapat menyelamatkan Istri, dan anaknya. Cerita Ibrahim dan ayanya, juga keluarga-keluarganya. Cerita nabi Ayub yang kehilangan anak dan istrinya. Cerita nabi Yusuf yang terpisah dari keluarganya. Hingga kisah nabi besar kita Muhammad SAW. Rasanya hampir dalam semua kisah para nabi yang mulia itu, ada cerita tentang keluarga mereka.

 

Berkumpul dengan keluarga adalah momen yang paling dirindukan bagi kebanyakan orang. Dari lingkungan keluarga kita banyak mendapat pembelajaran sebelum mengenal apapun. Dari keluarga kita mendapat saudara-saudara yang saling mendukung. Dari keluarga kita mendapatkan kasih sayang orangtua kita. Dari keluarga juga kita pertama kali dikenalkan tantang Allah yang Esa.

 

Iya tersenyum, tampak kepuasan di wajahnya melihat anak-anaknya yang sudah tumbuh dewasa sedang berkumpul berbagi cerita. Cerita tentang kehidupan, cerita tentang amal dan amal. Keluarga adalah lingkaran amal terkecil dalam lingkup amal sosial (baca: habluminannas). hampir setengah dari usia kita habis bersama mereka.

 

Keluarga adalah pondasi bagi kerja-kerja besar kita di luar rumah. Segala kebaikan yang kita dapatkan dari rumah akan kita bawa keluar bersama amal di luar sana. Pun sebaliknya segala nilai dan norma yang kita dapat dari luar akan disaring di dalam rumah. Boleh jadi apa yang datang dari luar  itu akan mengkristal menjadi nilai-nilai dalam keluarga atau sebaliknya. Maka keluarga yang berhasil adalah keluarga yang mampu menjadi benteng bagi anggotanya dari pengaruh-pengaruh buruk lingkungannya.

 

Membina keluarga adalah tanggung jawab bersama setiap anggotanya yang sudah beranjak dewasa. Di sini kita saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Saling saling memahami karakter saudaranya. Lalu saling membantu membantu meringankan beban-beban kehidupan. Sunguh terlalu banyak rintangan dalam kehidupan ini jika harus dihadapi sendiri, maka hadirlah keluarga untuk membersamai.

 

Seringkali kita tidak bisa menuntut banyak dari keluarga. Tapi pahamilah bahwa keluarga adalah tempat kita beramal bukan sekedar mengambil manfaat. Kelak masing-masing kita akan ditanya tentang tanggung jawabnya. Pada bagian ini kadang aku merasa belum berbuat apa-apa. Ya Allah jangan engkau jadikan aku lalai terhadap keluargaku.

 

Sekali lagi ia tersenyum, garis-garis di wajahnya semakin terlihat jelas. Ia adalah kepala keluarga ku, Abi. Kini aku pun sedang belajar menjadi kepala keluarga yang baik. Ada banyak pelajaran yang aku ambil darinya, menjadi amalnya yang tidak terputus. Ya Allah, berikan selalu kesehatan kepadanya, panjangkan usianya, sayangilah ia sebagaimana ia tela menyayangiku di waktu kecil. Ya Allah, jangan engkau jadikan aku lupa menyebut namanya dalam doa-doaku.

 

Seringkali aku teringat kisah Ibraim dalam Al Quran yang patut kita teladani, seperti tertulis dalam al quran.

 

“Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya”(Qs.60:4).

 

Lalu, siapakah orang-orang yang membersamai ibrahim yang diceritakan Allah dalam Alquran selain keluarganya?

 

Ya Allah jangan jauhkanlah aku dan keluargaku dari panasnya api neraka.

 

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Qs.66:6)

 

Wallahualam

Bogor, 16 Nov 2018

Yasin

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *