Jalan Pulang
October 16, 2018
Senyum Keluarga
November 16, 2018
Show all

Mengais Berkahnya Pagi

Winter 2018 di Palmerston North agaknya lebih dingin dari biasanya. Meski tidak sampai turun salju, lapisan es tipis selalu melapisi kaca mobil kami setiap dini hari. Lapisan es itu membentuk titik-titik seperti embun yang membeku. Es itu kemudian akan segera mencair sesaat setelah di terpa sinar matahari pagi. Subhanallah.

 

Ditengah dinginnya pagi, ketika lapisan es tipis belum mencair. Ketika kebanyakan orang masih menghangatkan diri di balik selimut-selimut mereka. Ku buka pintu rumah, hembusan angin dingin segera menerpa wajah. Kulangkahkan kaki, tuk memulai aktivitas pagi. Aku sudah terbiasa memulai aktivitas sejak dini hari sewaktu sekolah dulu, begitulah Abi (semoga Allah selalu menjaganya) mendidik ku.

 

Pukul 4 dini hari, lampu supermarket di persimpangan jalan itu menyala penanda aktivitas didalamnya. Supermarket itu masih tampak sepi di luar namun penuh aktivitas di dalam. Sebagian pekerja melakukan pengecekan stok barang pada display, ada juga yang beraktifitas di gudang. Pekerja kebersihan pun mulai mempersiapkan mesin untuk membersihkan seluruh lantai supermarket. Pukul 5 dini hari, di bakery mulai tampak aktivitas membuat kue. Tidak lama setelah itu stok sayur dan buah buahan segar mulai berdatangan segera dipersiapkan untuk display. Begitu kiranya kesibukan dini hari tempat aku bekerja part time di New Zealand.

 

Pukul 7 kurang, roti-roti sudah siap, supermarket sudah dibersihkan, barang display telah kembali tertata rapih. Sayur dan buah buahan segar selalu ada di depan pintu masuk, siap menyambut pengunjung pertama hari ini. Aku melakukan check out menggunakan saluran telepon yang disediakan, segera kemudian meninggalkan tempat kerja. Supermarket akhirnya dibuka, para pengunjung berdatangan bersama dengan keperluannya masing-masih untuk menjalani hari.

 

Aku memilih bekerja pagi karena setelah itu harus bertukar peran menemani Qianna yang baru genap 2 tahun usianya. Pukul delapan pagi – tidak lama setelah aku tiba di rumah, Istriku harus pergi ke kampus untuk tugas kuliahnya. Jika ada waktu, sore hari menjelang malam -sepulang istri dari kampus, aku kadang menambah sedikit jam untuk bekerja. Seorang pernah berkata padaku, ‘kualitas suatu hari ditentukan oleh kualitas paginya’.

 

Aktivitas pagi adalah sumber keberkahan. Ia adalah jawaban dari doa Nabi Muhammad SAW ketika berdoa: “Ya Allah, berkahilah umatku di waktu pagi”. Udaranya yang bersih lagi menyegarkan menjadi bekal penyempurna hari. Pijaran matahari yang mengintip dari tepi langit menampilkan paduan warna indah yang memanjakan mata. Pancaran cahayanya membawa energi untuk memulai hari. Sahut menyahut kicauan burung menambah syahdu suasana pagi.

 

Kita umat islam pun diajarkan untuk terjaga dan memulai aktivitas sejak pagi hari. Azan subuh selalu mengusik mereka yang berhati bersih untuk segera bangkit meninggalkan tempat tidurnya, menyambut panggilan Tuhannya yang Maha Pemberi. Namun masih juga ada orang yang enggan untuk segera bangkit. Mereka menunda untuk bangkit guna memperpanjang waktu tidurnya meski hanya empat lima menit, padahal kata Rasulullah: “dua rakaat sebelu subuh, lebih baik dari dunia dan seisinya.”

 

Dengan segala kebaikan yang ada di pagi hari, Ditambah keutamaan beribadah di dalamnya. Tidak heran jika kemudian rasulullah berkata: “seandainya mereka tahu keutamaan yang ada pada sholat Subuh dan Isya, tentu mereka akan mendatanginya walau sambil merangkak”.

 

Adakah kita merasa malu ketika sesekali harus terlambat menyambut subuh, semoga Allah mengampuni. Adakah kita merasa malu ketika Dia melimpahkan begitu banyak karunianya, namun kita lewatkan pagi dengan rasa malas dibalik selimut hangat. Adakah kita merasa malu ketika panggilan azan-Nya terdengar ditelinga kita namun mata tak kuasa terbuka. Adakah kita merasa malu, pada-Nya yang maha tahu?

 

Maka berdoalah aku di pagi hari sebagaimana yang diajarkan sang nabi, Muhammad Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa salllam.

 

“Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari rasa sesak dada dan gelisah,

dan aku berlindung pada-Mu dari kelemahan dan kemalasan,

dan aku berlindung pada-Mu dari sifat pengecut dan kikir,

dan aku berlindung pada-Mu dari belenggu hutang dan tekanan manusia”

 

Bogor, 24 Oktober 2018

-Yasin

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.