Hadirkan Cahaya
September 7, 2018
Mengais Berkahnya Pagi
October 24, 2018
Show all

Jalan Pulang

Hiruk pikuk kesibukan di “Auckland Airport” tak pernah berhenti sebagaimana umumnya bandara-bandara internasional lainnya. Kami berada disana malam itu, dalam perjalanan kembali ke Indonesia setelah lebih satu setengah tahun berkelana di negeri selatan. ada banyak pengalaman, ada banyak cerita, juga ilmu yang rasanya ingin segera dibagi. Tapi ada juga kekhawatiran tentang apa yang akan terjadi.

 

Rumah dan kampung halaman adalah sesuatu yang paling dinanti bagi para perantau kemanapun ia pergi. Kerinduan akan kampung halaman adalah sesuatu yang sangat manusiawi sebagaimana para muhajirin yang selalu merindukan Makkah tempat kelahirannya. Rumah tidak hanya menjadi simbol peristirahatan, simbol ketenangan, tapi juga simbol energi dan harapan. Ia mengalirkan energi seorang lelaki ketika bersungguh-sungguh dalam mencari rizki yang halal ditengah teriknya siang yang membakar.

 

Bagi perantau yang tidak berdiam di suatu negeri, tidak ada yang lebih penting selain menyelesaikan tujuan perjalanannya. Bagi kami menyelesaikan studi adalah yang utama, jika ada waktu sesekali kami berlibur melepas penat. Keindahan alam di New Zealand terlalu indah untuk tidak dinikmati, tapi kami tidak ingin menghabiskan banyak waktu dengannya sehingga melupakan tugas yang utama. Sebagian sahabat kami sesama pelajar Indonesia mendapat banyak kesempatan untuk menikmati keindahannya. Sebagian yang lain mencuri-curi waktu ditengah kesibukan belajarnya. Ada yang mengambil kesempatan bekerja, sebagaian yang lain memfokuskan diri dalam study-nya.

 

Setiap orang harus dapat mengukur kemampuannya masing-masing dalam hal ini. Satu hal yang perlu diprioritaskan adalah menyelesaikan kuliah tepat waktu. Karena itulah tujuan awal kedatangan kami, dan kami harus selalu saling mengingatkan untuk itu. Jika ada diantara kami yang merubah tujuannya, satu yang ingin kami pastikan, bahwa ia telah mempertimbangkannya dengan sangat baik dan matang.

 

Aku akan pulang, membawa sejuta asa untuk hidup yang terus bermakna. Terbesit kepuasan setelah tuntas tujuan perjalanan, meski masih menyisakan catatan. Kubuka kembali file-file kenangan tentang rumah dan kampung halaman. Satu persatu wajah keluarga terbayang dalam ingatan. Hingga tersujud aku di suatu malam, tersadar tujuan yang belum terselesaikan. Aku hampir lupa bahwa dunia bukanlah rumah kita. Dunia bukanlah kampung halaman kita.

 

Setiap kita memiliki kapasitas dan kemampuan yang berbeda dalam mengarungi jalan kehidupannya. Kenikmatan dunia terlihat begitu indah jika ditinggalkan, tapi adakah kita mau menjadikannya tujuan yang utama?

 

Seperti halnya perjalanan kami, aku selalu berharap bertemu dengan orang-orang yang tidak pernah melupakan tujuan kedatangannya. Kemudian kita terus saling mengingatkan disaat lalai. Kita perlu menyadari bahwa disini kita hanya perlu memngambil bekal yang cukup untuk membangun kebaikan-kebaikan. Disini kita perlu menghimpun yang banyak untuk bisa terus memberi. Disini kita perlu terus belajar untuk memperluas kebermanfaatan. Disini kita perlu terus membangun agar kebaikan kita tidak berhenti.

 

Yaa Allah, kumpulkanlah kami selalu dengan orang-orang salih agar mereka senantiasa mengingatkan kami akan tujuan kehidupan.

 

Yaa Allah, ingatkan kami dikala lupa. Jadikan negeri akhirat dan keridhaan-Mu tetap menjadi tujuan utama kami.

 

Yaa Allah, aku berlindung kepadamu dari segala macam kemaksiatan yang menjadikan kami lalai terhadap tujuan hidup kami.

 

Yaa Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang engkau beri nikmat, bukan jalan orang-orang yang sesat, bukan pula jalan orang yang engkau murkai.

 

Dari Ibnu Umar radhiallohu ‘anhuma beliau berkata: Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah memegang kedua pundakku seraya bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir.” Ibnu Umar berkata: “Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi hari jangan menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati.” (HR. Bukhori)

 

Wallahu’alam

Yasin, 16 Okt’18

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.