February 5, 2018
Upaya Taqwa
March 31, 2018
Show all

Para Pengkhianat

“Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah mengembalikan mereka (kepada kekafiran), disebabkan usaha mereka sendiri? Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang yang telah dibiarkan sesat oleh Allah? Barangsiapa dibiarkan sesat oleh Allah, kamu tidak akan mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.” Qs.An-Nisa(4):88

 

Dalam perjalanan menuju bukit Uhud, Abdullah bin Ubay – seorang tokoh munafiq, berhasil menghasut hampir setengah dari pasukan yang berangkat bersama Rasulullah untuk kembali ke Madinah. Alasannya peperangan tidak akan terjadi. Maka berangkatlah baginda Nabi Muhammad SAW bersama sisa pasukannya yang setia ke dalam pertempuran yang kita kenal dengan perang Uhud.

 

Kita sering mendengar cerita kelalaian pasukan pemanah diatas bukit yang menyebabkan kekalahan kaum Muslimin. Salah satu kunci keberhasilan atau kemenangan adalah kesabaran yang menjadikan kita tidak terburu-buru dalam menyimpulkan keadaan.

 

Pasukan pemanah saat itu melihat keadan lawan yang lari ketakutan dimedan pertempuran. Sangat jelas tanda tanda kemenangan kaum muslimin pada waktu itu. Tapi Allah ingin memberi pelajaran pada orang-orang beriman. Keadaan berbalik ketika para pemanah ikut bergerak turun mengejar mengejar musuh.

 

Tidak ada yang perlu diratapi dari sebuah kekalahan. Cukuplah kekalahan itu menjadi pelajaran yang memperkaya pengetahuan dan pengalaman. Pada hari itu Nabi Muhammad SAW dan kaum muslimin menerima kekalahan sebagai takdir yang telah ditetapkan. Dalam kelelahan mereka kembali bergerak mengejar musuh sebelum mereka berbalik menyerang.

 

“Dan apa yang menimpa kalian pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman. Dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik.”(QS Ali-Imran:166)

 

Kelalaian pasukan pemanah nyatanya jauh lebih baik daripada orang-orang yang membersamai Abdullah bin Ubay ketika menyambut kepulangan kaum muslimin dengan olok-olok. Allah mengabadikan perkataan mereka dalam Alqur’an.

 

“Orang-orang yang tidak turut berperang itu berkata kepada saudara-saudaranya :“Sekiranya mereka mengikuti kita tentulah mereka tidak terbunuh.“ Katakanlah :“Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar.“ (QS Ali-Imran : 168)

 

Ya Allah, Jauhkan Aku dari sifat-sifat kemunafikan.

 

Pengkhianatan adalah kesalahan yang tidak termaafkan. Berkomplot dengan musuh untuk menghancurkan saudaranya hanya akan membinasakan pelakunya sendiri. Upaya memecah belah barisan pejuang kebenaran tidak akan mempengaruhi mereka yang tulus.

 

Dalam konteks berbangsa dan bernegara kita akan selalu melihat orang-orang yang mementingkan ambisi pribadinya dengan mengorbankan bangsanya. Merekalah yang memecah belah negeri ini untuk mengambil keuntungan darinya. Mempertontonkan keserakahan sembari mengorbankan rakyatnya. Mereka merampas kekayaan negeri ini kemudian bersembunyi dibalik kelemahan penegakan hukum.

 

Mereka terlihat kuat. Mereka dengan topengnya seolah mampu menarik simpati kebanyakan manusia. Fasih bicaranya seolah cemerlang gagasannya. Tapi seperti yang Allah gambarkan dalam Al-Quran tentang orang-orang munafik, sesengguhnya mereka itu rapuh “seakan-akan kayu yang tersandar.”

 

“Dan apabila engkau melihat mereka, tubuh mereka mengagumkanmu. Dan jika mereka berkata, engkau mendengarkan tutur-katanya. Mereka seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa setiap teriakan ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka; Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari kebenaran)?” Qs. Al Munafiqun : 3

 

Kepada orang-orang yang tulus di negeri ini, mari kita merapatkan barisan. Jangan ada lagi yang terpecah hanya demi membela sang pengkhianat yang tampak memikat. Lihatlah dengan mata hati kita yang dalam siapa-siapa yang tulus dalam membangun bangsa ini dan bersinergilah. Jangan tertipu oleh pesona lahir, pangkat, jabatan atau bahkan gelar akademik sekalipun.

 

Karena ketulusan berasal dari hati, maka hanya mata hatilah yang mampu melihatnya. Semoga mata hati kita belum buta.

 

Ya Allah, Jauhkan Aku dari sifat-sifat kemunafikan. Wallahu’alam.

PN, 20/3/18

-Yasin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *