Pendidikan Anak Menurut Al Quran dan Sunnah oleh Ust Salim A Fillah
November 18, 2017
Menjaga Batas Batas
January 11, 2018
Show all

Mengeja Syukur

Di akhir musim gugur lalu, ketika angin mulai terasa dingin. Aku pergi bersama istri dan bidadari kecilku Fatma. Kami berjalan melepas penat mengumpulkan semangat untuk  kembali menghimpun amal di bulan yang akan datang.

Sepuluh kilometer dari Palmerston North – tempat kami tinggal, berpuluh puluh tiang besar terpancang kelangit bersama baling-baling raksasa yang berputar di setiap puncaknya. Te Apiti Wind Farm, tempat puluhan kincir angin berdiri tegak menghimpun sebagian karunia Allah yang terbawa bersama hembusan angin.

Setelah setengah jam berkendara dijalanan berkelok dan mendaki kami disambut terpaan angin yang berhembus kencang bersama hawa dingin yang menerpa wajah kami. Kuatnya angin menjadikan kendaraan kami terasa terguncang ringan membuat kami enggan untuk keluar pada awalnya.

Ada berjuta nikmat yang sering kali kita lupa untuk disyukuri. Dan uncak dari semua kenikmatan itu adalah nikmat keimanan yang masih menghujam dalam hati kita. Sehingga Bisikan bisikan keimanan itu menjadikan setiap langkah kita dapat bermakna amal dimata Allah. Dan setiap amal akan terasa manis dengan keimanan di dalam hati. Karena kita yakin dengan penuh kesadaran, tidak ada sekecil apapun amal yang akan Allah sia-siakan.

“Sebenarnya bagaimana cara yang benar untuk bersyukur?” tanya seorang teman suatu ketika.

“Adakah cukup dengan mengucap Alhamdulillah ketika mendapatkan kenikmatan, berarti kita sudah termasuk orang-orang yang besyukur?” tanyanya lagi.

Syukur adalah lawan dari kufur. Jika kufur adalah pengingkaran terhadap keimanan, maka syukur semestinya adalah upaya meningkatkan keimanan kita ketika datang kenikmatan dari Allah. Mengucap ‘Alhamdulillah’ ketika menerima penghasilan setiap kali bulan adalah salah satu bentuk kesyukuran. Tetapi membelajakan tersebut untuk sesuatu yang sia-sia adalah bentuk kecil dari kekufuran, apalagi menggunakannya untuk bermaksiat kepada Allah. Ya Allah jauhi aku dari bermaksiat kepadamu.

Ada banyak hal yang seringkali lupa untuk kita syukuri, salah satunya adalah kelapangan dalam beribadah kepada Allah SWT. Adakah dengan kelapangan-kelapangan ini kualitas ibadah kita meningkat dari hari ke hari atau justru sebaliknya. Bagi yang pernah tinggal di negara minoritas muslim mungkin  merasakan sempitnya beribadah minimal dalam hal menjaga shalat di awal waktu. Bagi rekan rekan muslimah di Indonesia mungkin bisa bertanya pada ibu-ibu yang sudah mulai berhijabnya sejak tiga puluh tahun yang lalu, maka ia akan bercerita sempitnya ruang bagi muslimah untuk menutup auratnya kala itu. Bagi para Ayah adakah kita telah bersyukur atas hadirnya anak-anak yang bisa menjadi sarana amal tak terputus? Wallahu A’lam.

Semoga Allah senantiasa mengilhami kita untuk selalu menjadi hambanya yang bersyukur atas segala nikmat yang telah ia berikan

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (Q.s. 14: 7)

PN, 18/11/17 — Ahmad Y

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.