Berkunjung ke Islamic Center di Taihape – New Zealand

Not a Perfect Mom
September 20, 2017
Sebait Doa Untuk Negeri
October 22, 2017
Show all

Berkunjung ke Islamic Center di Taihape – New Zealand

Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain Allah, maka merekalah yang termasuk golongan orang-orang yang selalu mendapat petunjuk (dari Allah Ta’ala)” (QS At-Taubah: 18).

Untuk berkendara dengan kecepatan standar (100 km/jam) dari Palmerston North menuju Taupo – sebuah kota ditepian danau, membutuhkan waktu tiga sampai empat jam perjalanan tanpa berhenti. Di tengah perjalanan itulah kita dapat menemukan sebuah Masjid yang dinamai ‘masjid Ad Deen’. Masjid ini berjarak satu setengah jam perjalanan dari Palmerston North, dan ini adalah masjid terdekat yang dapat kita temui. Uniknya, menurut informasi yang kami dapat masjid ini memang sengaja dibangun untuk keperluan Traveler Muslim yang hendak melakukan shalat.

Diresmikan pada akhir tahun 2014, Taihape Islamic Center sebenarnya terlalu kecil untuk disebut masjid dalam pengertian bahasa Indonesia. Di Indonesia tempat shalat berjamaah sekecil ini lebih kita kenal dengan istilah Mushala. Hitungan kasar saya mengira hanya sekitar sekitar 10 sampai 15 orang yang dapat ditampung untuk shalat berjamaah di ruang utama masjid ini. Uniknya lagi, dengan ukuran yang sekecil itu terdapat sebuah mimbar yang mungkin digunakan untuk berkhutbah pada shalat jumat atau shalat ied .

Area wudhu berada di belakang masjid dengan tiga buah keran tanpa pemisah antara laki-laki dan perempuan karena terbatasnya ruang. Ada juga sebuah toilet lengkap dengan shower yang dapat digunakan untuk mandi bagi yang perlu melakukannya sebelum shalat :D. Jama’ah wanita juga dapat menggunakan toilet ini untuk berwudhu jika khawatir auratnya tersingkap.

Ada juga sebuah kitchen kecil di dekat toilet lengkap dengan microwave dan pemanas air. Beberapa set gelas dan piring disediakan bersama coklat, kopi, teh dan gula dalam lemari tertutup. ‘Dear brother and sister. please help your self to avaible pantry facility …’ begitu yang tertulis dalam selembar kertas yang menjadi sarana komunikasi kami dengan pengelola masjid ini. Satu fasilitas lagi yang saya ingat, selembar kertas berisi menu-menu makanan beserta harga dan sebuah nomer untuk dihubungi jika ingin melakukan pesanan. Entah mengapa kemudian saya berfikir bahwa fasilitas kitchen seperti ini seolah menjadi fasilitas wajib di masjid-masjid New Zealand.

Tidak ada orang disana saat kami datang. Pintu masjid terkunci menggunakan kode angka yang kami bisa dapatkan kuncinya dari salah satu komunitas muslim indonesia. Sebuah buku tamu di area depan masjid terbuka untuk kami isi. Melihat isi buku itu kami tahu kalau pengunjung masjid ini adalah para treveler muslim yang hendak melakukan shalat dalam perjalanan mereka. Catatan itu memeperlihatkan hampir setiap hari, terutama akhir pekan ada saja pengunjung yang datang.

Keberadaan masjid ini selain menjadi sarana peribadatan Umat Islam, ia juga menjadi simbol eksistensi keberadaan kaum muslimin yang jumlahnya hanya berkisar satu persen dari keseluruhan penduduk. Itulah sebabnya masjid menjadi bangunan yang pertama kali dibangun oleh Rasulullah SAW sesampainya ia di madinah.

Sungguh aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, kata Utsman bin Affan sebagaimana tertulis dalam Shahih Bukhari dan Muslim. “Barangsiapa yang membangun masjid karena Allah Ta’ala (mengharapkan wajah-Nya) maka Allah akan membangunkan baginya rumah (istana) di Surga”.

Muslim di New Zealand – meski tergolong minoritas, mereka masih lebih beruntung jika dibanding dengan minoritas muslim banyak negara yang mengalami diskriminasi, seperti Myanmar. Sebagai salah satu negeri dengan keindahan alam yang menakjubkan, New Zealand menjadi tempat kunjungan wisata yang menarik bagi wisatawan dari seluruh dunia. Mungkin atas dasar inilah konduktifitas kehidupan beragama sangat dijaga.

Jika masjid ini dibangun di tempat yang hampir tidak menunjukan keberadanan kaum Muslimin maka ingatkah kita dahulu seorang nabi membangun baitullah padang pasir yang hampir tidak berpanghuni. Dia berdoa kepada Allah ketika meninggalkan Istri dan anaknya di sana.

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (Qs Ibrahim: 37)

Akupun Berdoa kepada Allah agar masjid yang pernah aku kunjungi ini kelak akan ramai dengan orang-orang yang datang untuk beribadah hanya kepada Allah yang satu. Aku yakin kelak islam akan memenuhi hati seluruh penduduk bumi ini sebelum bumi ini musnah sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Rasulullah SAW.

Situs resmi Taihape islamic center : http://www.addeenmosque.com

PN, 24/9/2017
Ahmad Yasin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.