Duka Rohinngya dan Kepedulian Kita
September 17, 2017
Not a Perfect Mom
September 20, 2017
Show all

Senja di Castle Point

Aku menghadap lurus ke arah Baitullah di Makkah Al Mukarramah bersama hempasan angin pantai yang sejuk menerpaku dari arah yang lain. Terdiam aku sejenak dalam posisi duduk yang belum berubah setelah kutunaikan kewajiban sebagai bukti ketaatan. Kami barusaja selesai menunaikan shalat dzuhur yang dijama dengan ashar.

Ini adalah perjalanan jauh kedua kami setelah sebelumnya berkendara ke Wellington dari Palmerston North. Berbeda dengan perjalanan kami ke Wellington yang kebanyakan menempuh jalan mendatar, kini kami harus melaui jalan mendaki dan berkelok karena jalan utama ditutup akibat longsor. Dua setengah jam perjalanan untuk jarak hampir 160 kilometer dari Palmerton North.

Castle point adalah sebuah kota kecil tepi pantai di dekat Wairarapa, Welington Region – Selandia Baru. Disini terdapat beberapa bukit kecil dan sebuah mercusuar berdiri di salah satu bukitnya. Ada sebuah jalan mendaki dengan banyak tangga menjelang puncaknya yang dapat digunakan untuk mencapai titik mercusuar itu.

Jika kita mendaki sedikit lebih tinggi dari titik mercusuar itu kita dapat melihat hampir seluruh wilayah castle poin dengan sebuah mercusuar di tengah tengah pandangan kita. Garis pantai, bukit hijau, bebatuan besar, pasir putih, laut biru, sekumpulan awan berpadu dengan riak-riak ombak, semua menyatu menyajikan sebuah lukisan besar yang tak jenuh dipandang mata. Subhanallah.

Tujuh Langit, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun Qs Al Isra – 44.

Kupejamkan mata di puncak jalan mendaki, kurasakan terpaan sinar mentari yang panas disambut hembusan angin dingin yang entah dari mana datangnya. Debur ombak terdengar sambung menyambung membentuk irama yang unik. Sesekali suara burung terdengar dari kejauhan. Boleh jadi itulah tasbih semesta memuji Pencipta, dengan cara yang tak kumengerti.

Menjadi seorang muslim berarti menjadi bagian dari Tasbih semesta. Menjadi muslim berarti ikut dalam gelombang ketaatan makhluk pada Khalik. Boleh jadi gelombang ketaatan inilah yang menjadi perantara Allah menyampaikan barokah bagi segenap ciptaannya. Kita hanya perlu mengikutinya dengan irama yang tepat untuk dapat menghimpun sebagian darinya.

Matahari mulai bergeser, langit mulai memerah. Anakku ‘Fatma’ berlari dan tertawa diatas pantai putih di tepian lautan. Di sisi yang lain kulihat senyum terpancar dari wajah sang ibu. Semoga masih ada barokah yang terhimpun bersama diantara kami.

Hari sebentar lagi akan berganti bersama hadirnya kenangan tentang tempat ini. Lembaran-lembaran baru catatan amal kita siap tergoreskan kembali. Sejumlah harapan tentang hari yang lebih baik akan senantiasa terulang di awal pagi.

Palmy, 19/9/17
Ahmad Yasin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *