Pertanyaan tentang Beasiswa NZAID
August 7, 2017
Duka Rohinngya dan Kepedulian Kita
September 17, 2017
Show all

Kiwi

Dini Hari di penghujung pekan pertengahan bulan April, kami sudah meluncur meninggalkan Palmerston North, kota yang belum tiga bulan kami singgahi. Dua gelas teh hangat menemani perjalanan kami menembus dinginnya pagi New Zealand.

Berbekal kursus stir mobil singkat ketika masih di Indonesia setra beberapa pengalaman berkendara, kupacu kecepatan kendaraan kami pada kisaran 90 sampai 100km/jam, sesekali bahkan lebih cepat. Begitulah aturan berkendara di New Zealand, kecepatan kendaraan harus mendekati batas kecepatan maksimimal yang tertera pada marka jalan. Aturan itu berlaku juga pada tikungan atau tanjakan ringan jika tidak ada marka jalan yang meminta kita menurunkan kecepatan. Maka cukuplah dzikir menemani pengalaman pertama kami berkendara jauh ini, semoga Allah berikan keselamatan.

Dua jam perjalanan tibalah kami di kota tujuan, Wellington. Setelah bersilaturahmi dengan beberapa rekan Indonesia, kami memutuskan untuk mengunjungi sebuah Mini Zoo. Meski kecil, rasanya cukup untuk mengenalkan Fatma akan kebesaran Allah pencipta seluruh alam semesta termasuk hewan-hewan yang tinggal di Mini Zoo ini.

Salah satu ciptaan Allah unik yang kami lihat disini adalah kiwi. Untuk melihatnya kami diajak masuk ke dalam gua buatan yang gelap. Ada beberapa penerangan kecil yang sedikit membantu kami untuk melihat. Tidak hanya itu, kami juga diminta untuk tidak bersuara sebagaimana tertulis dalam intruksi di mulut goa.

Kiwi adalah jenis burung yang hampir tidak memiliki sayap. Sebagaimana umumnya burung, kiwi memiliki dua kaki untuk berjalan dan menggaruk tanah mencari makanan. Paruhnya yang panjang merupakan ciri khas burung ini. Makanan mereka belatung, cacing tanah, biji-bijian, buah, udang-udang kecil, belut, bahkan amfibi.

Habitat kiwi sebenarnya bukan di dalam gua, namun burung ini sangat pemalu untuk dapat dilihat di suasana yang terang. Burung ini sangat sensitif terhadap bau, suara, maupun gerakan. Ukurannya kurang lebih sebesar ayam, gerakannya cepat namun tak bisa terbang.

Burung kiwi menjadi symbol Negara New Zealand. Istilah ‘Kiwi’ di Negeri Kiwi ini dapat diartikan menjadi 3 makna, burung, buah, atau Manusia. Ya betul manusia, Kiwi adalah sebutan bagi sekelompok penduduk New Zealand yang berasal dari bangsa Eropa. Hhm… Unik bukan?

Populasi Kiwi (New Zealand European) di New Zealand jauh lebih besar dari populasi suku aslinya Maori. Jumlah mereka hampir mencapai 5 kali lebih besar dari jumlah penduk asli Maori. Kedatangan bangsa Eropa ke negeri ini pertama kali pada abad ke 17 Masehi, namun kunjungan intensif Bangsa Eropa baru terjadi pada abad ke 18. Tujuan kedatangan bangsa eropa ke New Zealand awalnya adalah untuk melakukan kegiatan ekonomi sebagaimana juga yang mereka lakukan di berbagai belahan dunia pada abad itu.

Sebagaimana juga kedatangan bangsa eropa di berbagai belahan dunia, selalu ada gesekan dengan penduduk asli negeri ini. Secara perlahan, orang-orang Eropa kemudian mendominasi kegiatan ekonomi di New Zealand. Dominasi ini kemudian meluas ke berbagai bidang hingga lahirlah Perjanjian Waitangi yang membawa Negara ini ke dalam kerajaan Inggris.

Dari sini kita belajar tentang pentingnya penguasaan ekonomi dalam mengokohkan kedaulatan Umat dan Bangsa. Mungkin diantara kita masih teringat tentang sebab kehancuran Kekhalifahan terakhir umat Islam, Turki Utsmani. Merosotnya ekonomi pasca kekalahan Turki dalam perang dunia pertama adalah salah satu sebabnya.

Maka benarlah doa yang diajarkan Rasulullah untuk selalu kita baca pagi dan petang.

“Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari rasa sesak dada dan gelisah, dan aku berlindung pada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, dan aku berlindung pada-Mu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung pada-Mu dari belenggu hutang dan tekanan manusia”

Aamiin

 

Yasin

PN, 17 Agustus 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *