Ancaman Islamophobia
July 23, 2017
Baby Visual Card
July 24, 2017
Show all

Para Pembebas Al Quds

Sumber foto: http://america.aljazeera.com

Penutupan Masjid Al Aqsa beberapa waktu yang lalu mengingatkan kita tentang mimpi yang seharusnya tidak boleh hilang dari benak kaum muslimin. Mimpi untuk membebaskan kota suci Al-Quds dari cengkraman Zionis Israel. Mimpi yang membuat ibu-ibu Palestina memilih untuk bertahan di negeri para syuhada itu. Mimpi yang membuat warga Palestina tidak pernah bosan membangun kembali rumah-rumah mereka setelah berulang kali dihancurkan secara paksa.

Mimpi pembebasan Al-Quds membawaku pada kenangan sejarah yang diukir indah oleh para pejuang islam yang gagah berani. Mereka tidak pernah melepaskan kepemilikan atas tanah suci ini kepada orang-orang kafir kecuali hanya sebentar saja.

Pada periode pertama pembebasan Al-Quds kita mengenal nama Umar bin Khathab, Amr bin Ash, Khalid bin Walid, Abu Ubaidah bin Jarrah, Muawiyah bin Abu Syofyan. Mereka adalah para sahabat Rasulullah yang menjadi kunci dibebaskannya kota suci Al-Quds dan Masjidil Aqsa yang ada di dalamnya.

Lima tahun setelah wafatnya Rasulullah SAW, Umar bin Khattab ditemani pembantunya melakukan perjalanan dari Madinah ke Jerussalem (Al Quds) tanpa pengawalan. Ya, Umar datang untuk melakukan serah terima kunci kota suci Al Quds. Itulah salah satu syarat yang diajukan pihak gereja kepada kaum muslimin, Umar bin Khattab harus datang langsung ke Jerussalem.

Lima ratus tahun setelahnya kita mengenal Salahuddin Al-Ayubi, panglima shalih yang penuh keteladanan. Dialah yang membebaskan kembali kota suci Al Quds setelah hampir setarus tahun terlepas dari genggaman kaum muslimin. Inilah periode kedua pembebasan Al Quds dan Masjid Al Aqsa.

Tidak ada pertumpahan darah, apa lagi pembantaian setelah pembebasan kedua ini. Orang-orang nasrani yang menjadi bagian tentara salib dipersilahkan untuk pergi meninggalkan kota tanpa dirampas haknya. Orang-orang nasrani yang bukan bagian dari tentara salib diizinkan untuk tetap tinggal di dalamnya berdampingan dengan orang-orang Islam. Sejak itu Al Quds tetap berada dalam pemerintahan kaum muslimin hingga kejatuhan Turki Usmani 1924 M.

Bangsa Yahudi memiliki sejarah panjang atas kota ini. Sejarah itu menjadi dalil bagi kelompok Zionis untuk mencita-citakan berdirinya Negara Yahudi dikota suci semua agama. Cita-cita itu akhirnya terwujud dengan berdirinya Negara Israel pertama kali tahun 1948 M. Untuk kedua kalinya, kota suci Alquds lepas dari pangkuan kaum muslimin.

Berdirinya Negara Israel pada dasarnya telah membuka periode ketiga pembebasan Al Quds dan Masjid Al Aqsa. Pada periode inilah kita mengenal nama Syeikh Ahmad Yasin, Syeikh Izzudin Al Qassam, Yahya Ayyas serta tokoh-tokoh pejuang Palestina lainnya. Sebagian mereka telah bergelar Syuhada, sebagian yang lain tetap berjuang mewujudkan mimpi umat islam di seluruh dunia.

Kisah pembebasan Al-Quds akan senantiasa harum dalam sejarah. Allah telah memuliakan para pejuangnya dan mengabadikan kisah pembebasannya dalam ingatan kaum Muslimin. Sebuah kemuliaan yang besar jika Allah mengizinkan aku menjadi bagian dari yang memperjuangkannya.

Ada keyakinan dalam hati ini, sebagaimana sejarah telah menunjukkan, bahwa Al Quds tidaklah pernah lepas dari tangan kaum Muslimin kecuali hanya sebentar saja. Jangan pernah beranggapan bahwa konflik Palestina hari ini tidak akan pernah berakhir. Itu hanyalah bentuk keputusasaan yang melemahkan.

Kita tidak perlu melihat lamanya pendudukan Israel atas tanah ini, tapi saksikanlah pembasan yang semakin dekat. Pembebasan itu akan semakin dekat lagi jika engkau bergabung menguatkan barisan para pembebasnya. Boleh jadi generasi pembebasnya sudah terlahir diantara kita. Mereka menunggu momentum yang tepat untuk memainkan perannya sebagai pembebas. Kawanku, tidakkah engkau tertarik untuk bergabung dalam barisan itu?

 

Ahmad Yasin

Palmy 24 Juli 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *