Memberikan Kepercayaan Kepada Bayi BLW
July 19, 2017
Cerita Rasulullah Tentang Masjid Al-Aqsa
July 22, 2017
Show all

Melihat Islam di New Zealand

Source: https://www.facebook.com/pg/manawatumuslimsassociation/photos

Siang itu di masjid Manawatu Muslim Association (MMA) sangat ramai dengan anak-anak. Setiap minggu pagi hingga mendekati waktu dzuhur anak-anak muslim Palmerston North berkumpul untuk belajar membaca dan menghafal Al-quran, Mungkin mirip dengan TPA di Indonesia. Di tengah ramainya suara lantunan quran dari sudut-sudut masjid itulah pertama kali aku berkunjung ke masjid ini.

Mengunjungi masjid menjadi agenda di hari-hari pertama kami. Kota ini memiliki setidaknya dua Masjid, satu di dekat pusat kota yang lain di tengah-tengah kampus Massey University. Keberadaan masjid tentunya menjadi bukti eksistensi dan keberlangsungan dakwah islam di negeri ini karena upaya untuk mendirikan dan menghidupkan sebuah masjid di negeri minoritas muslim tentulah tidak mudah.

Jumlah Muslim di New Zealand hanya 46000 orang berdasarkan sensus 2013 atau hanya 1.2% dari total penduduknya. Ini menyerupai perbandingan duapertiga orang Hindu –tidak termasuk Budha, dibanding dengan total penduduk Indonesia. Sangat kecil, namun juga tidak bisa diabaikan. Uniknya dengan jumlah muslim yang sangat minoritas ini Scheherazade S. Rehman dan Hossein Askari dalam tulisannya “How Islamic are Islamic Countries?” yang dipubikasikan pada Global Economy Journal tahun 2010 menempatkan Negara ini di urutan pertama sebagai Negara yang paling cocok dengan nilai-nilai Islam berdasarkan parameter-parameter yang mereka gunakan.

Keberadaan Muslim di New Zealand baru teridentifikasi pada abad ke 19. Mereka adalah satu keluarga dari India yang tinggal di Cashmere, Christchurch tahun 1850. Tahun 1874 sensus pemerintah mendapati 15 muslim dari china bekerja di pertambangan emas Dunstan di Otago. Barulah pada abad ke 20 Islam mengalami Pertumbuhan yang signifikan, meskipun masih di dominasi oleh kalangan imigran. Bandingkan dengan masuknya islam ke Nusantara sejak abad ke 13 Masehi – bahkan ada teori yang mengatakan abad ke 7.

Sebagai Negara yang baru mengenal Islam, menyandang peringkat negara paling Islami mungkin terkesan janggal. Sulit rasanya – bukan tidak mungkin, kita mengatakan bahwa nilai-nilai islam yang dilihat oleh Rehman dan Askari itu dibawa oleh orang-orang Islam sehingga mewarnai aspek-aspek umum dalam kehidupan di negeri ini. Hindu-Budha di Indonesia yang meski jumlahnya sedikit, mereka telah mengisi ruang sejarah yang panjang sehingga mampu mewarnai nilai dan kebudayaan nasional.

Mungkin inilah maksud istilah yang sering kita dengar, ‘Islam sebagai agama fitrah’. Fitrah adalah nilai dasar yang tidak terkotori oleh nafsu duniawi. ‘Setiap manusia yang lahir,’ Kata Nabi SAW. ‘mereka lahir dalam keadaan fitrah’. Maka setiap manusia yang lahir pada dasarnya telah membawa nilai-nilai islam dalam dirinya hingga kemudian mereka terwarnai oleh lingkungannya. ‘maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi’ lanjut Nabi SAW.

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS. Ar Ruum: 30)

 

Wallahu’alam

Ahmad Yasin, Palmy 20 Juli 2017

 

Daftar Bacaan:

Rehman ,SS; Askari, Hossein. “How Islamic are Islamic Countries?”. Global Economy Journal Volume 10, 2010 (http://islamicity-index.org/wp/wp-content/uploads/2015/11/how-islamic-are-islamic-countries.pdf)

https://en.wikipedia.org/wiki/Islam_in_New_Zealand

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *